Posted by INFO PENDIDIKAN on Saturday, March 31, 2012
1. Misi Nabi Muhammad SAW adalah Menyempurnakan AkhlakSelain mengemban misi reformasi akidah, Nabi Muhammad SAW juga mengemban misi reformasi akhlak. Seperti telah diketahui, bahwa keadaan akhlak bangsa Arab sebelum Nabi diutus adalah akhlak Jahiliyah. Perbuatan-perbuatan seperti mabuk-mabukan, berjudi, berzina, mengubur bayi perempuan hidup-hidup dianggap perbuatan biasa bahkan dianggap pula sebagai ukuran kehebatan seseorang. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan simbol masyarakat tidak beradab.
Ketika fajar Islam mulai terbit kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sedikit demi sedikit dikikis. Islam mengajarkan bahwa mabuk-mabukan, berjudi dan berzina adalah perbuatan tercela sehingga harus segera ditinggalkan. Islam mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan Nabi mengangkat derajat kaum wanita dengan sabdanya ”Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”, ataupun keutamaan berbakti kepada ibu. Nabi mengatakan hal itu di tengah-tengah kaumnya yang tidak memberi penghormatan kepada kaum wanita. Kedatangan Nabi men dorong kaumnya menjadi bangsa yang beradab dan berakhlak. Sabda beliau Rasulullah SAW yang artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. (HR. Ahmad).
Akhlak yang baik (akhlakul karimah)
merupakan landasan sekaligus pengendali dalam melaksanakan semua aspek
kehidupan seperti sosial, budaya, politik, pendidikan, ekonomi dan
lainnya.
Dalam menyampaikan ajaran Islam
termasuk aspek akhlak Nabi tidak hanya secara lisan, tetapi juga
dicontohkan langsung oleh Nabi atau keteladanan, beliau sendiri
mempraktekkan apa yang beliau ajarkan. Sehingga secara sukarela kaum
Muslimin mengikuti dan mengamalkan ajaran-ajaran beliau dan terpatri
kuat di dalam lubuk hati. Sampai saat ini dan seterusnya walaupun Nabi
sudah wafat 14 abad yang lalu, umatnya tetap konsekwen menjalankan
ajaran-ajarannya. Keteladanan Nabi diakui oleh Allah dalam firmanNya
yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri
tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan hari Kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah (QS.
Al Ahzab : 21)
Para sahabat adalah manusia yang
sangat beruntung karena diperkenankan mencontoh langsung budi pekerti
agung Rasulullah. Sebuah hadits yang dikeluarkan oleh sahabat Anas RA
mengatakan : Rasulullah SAW adalah manusia yang terbaik akhlaknya. (HR.
Muttafaq ’Alaih)
Keteladanan akhlak hanya lahir dari
sosok yang berakhlak agung, budi pekerti luhur sudah mendarah daging
baginya, yakni Rasulullah SAW, seperti dinyatakan pada ayat berikut
ini yang artinya : Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi
pekerti yang agung. (QS. Al Qalam : 4)
Nabi Muhammad SAW telah membimbing
umat manusia mencapai derajat kemuliaan dengan akhlak yang dimilikinya.
Dengan kemuliaan akhlaknya seseorang dapat diterima dengan mudah dalam
pergaulan sehingga dia dapat menyumbangkan kemampuannya. Akhirnya dia
menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Nabi pernah bersabda
yang artinya : Orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain. (Al Hadits)
2. Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat bagi Alam Semesta
Sebagaimana telah dipelajari pada
semester I, bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW bersifat universal atau
berlaku untuk semua umat manusia bahkan seluruh alam semesta (rahmatan
lil ’alamin) sampai akhir jaman. Sebagaimana firman Allah SWT yang
artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya : 107)
Ayat tersebut mengandung arti bahwa
rahmat ajaran Nabi Muhammad SAW tidak hanya diperuntukkan dan dirasakan
oleh kaum muslimin tetapi oleh seluruh umat manusia bahkan makhluk Allah
selain manusia. Ajaran Islam penuh kedamaian, memberikan rasa keadilan
bagi sesama.
Aspek akidah merupakan rahmat
terbesar. Seseorang yang akidahnya kokoh akan melandasi aspek-aspek
kehidupan lainnya. Pada aspek akidah, Nabi telah mengembalikan kemurnian
ajaran tauhid yang dibawa oleh Rasul-rasul sebelumnya, sekaligus
mengkoreksi semua penyimpangan akidah seperti penyembahan berhala dan
praktek kemusyrikan lainnya. Akidah dikembalikan pada hakekat semula
yakni tiada tuhan selain Allah. Dengan demikian Nabi telah melakukan
reformasi akidah secara total, sehingga orang-orang yang menerima,
meyakini dan mengamalkan ajaran Nabi berarti sudah kembali ke alam
tauhid dan selamat dari jurang kemusyrikan.
Dengan akidah tauhid umat manusia
dipersatukan oleh satu keyakinan yaitu akidah Islamiyah. Semua manusia
sama kedudukannya di mata Allah, yang membedakannya hanyalah
ketaqwaannya, sebagaimana firman Allah yang artinya ” Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa”. Berdasarkan
ayat ini jurang pemisah antara si kaya dan si miskin tidak ada lagi,
demikian juga penindasan golongan. Inilah rahmat yang dapat dirasakan
secara semesta.
Pada ayat lain Allah SWT berfirman
yang artinya : ... Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan
sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS. Al Isra :
105)
Di dalam ayat Al Quran banyak
disebutkan tentang kabar gembira (basyiran), seperti balasan surga bagi
orang-orang beriman di akhirat nanti. Kabar ini memberikan motivasi
kepada umat Islam untuk mengamalkan ajaran Islam secara benar. Di sisi
lain banyak pula disebutkan tentang peringatan (nadziran) seperti siksa
akhirat bagi mereka yang melanggar syariat Islam.
Nadziran ini menjadi pengendali bagi
umat Islam untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar syariat
Islam. Antara basyiran dan nadziran ini sebaiknya berjalan bersama
untuk menjaga keseimbangan antara motivasi dan pengendali. Dengan adanya
keseimbangan ini umat Islam tetap bersemangat dalam menjalankan syariat
Islam secara konsekwen namun tetap berhati-hati agar tidak melakukan
pelanggaran syariat.
Dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad
SAW adalah sosok pemurni akidah, penyempurna akhlak, teladan terbaik
dan penerang semesta alam dengan semua ajarannya yang paripurna, berlaku
untuk seluruh umat manusia dan makhluk Allah yang lain.
3. Meneladani Perjuangan Nabi dan Para Sahabat dalam Menghadapi Masyarakat Makkah
Secara garis besar dakwah Nabi
Muhammad SAW di Makkah dibagi menjadi dua bagian, yaitu dakwah secara
sembunyi-sembunyi dan dakwah secara terang-terangan. Dakwah secara
sembunyi dimulai setelah wahyu kedua turun, yaitu surat Al Mudatstsir 1 –
7 yang artinya : Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah
peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan
perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan
untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah. (QS. Al Mudatstsir: 1 –
7).
Nabi menyadari benar bahwa kondisi
umat Islam waktu itu masih lemah, oleh karena itu dakwah dilakukan
secara sembunyi-sembunyi atau secara diam-diam, dari pintu ke pintu dan
dari mulut ke mulut. Kegiatan dakwah dipusatkan dirumah Arqam bin Al
Arqam. Pada saat akan melaksanakan ibadah, mereka harus mengambil tempat
yang tersembunyi di luar Makkah untuk menghindari gangguan dari kaum
Quraisy. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang masuk Islam pada periode ini
adalah Khadijah, Ummu Aiman dan Fatimah bin Khaththab dari golongan
wanita; Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Harits dari golongan
anak-anak; Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ’Auf, Thalhah
bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin
Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Said bin Zaid Al Adawi, dan beberapa
sahabat lainnya. Para sahabat tersebut dijuluki dengan ”Assabiqunal
Awwalun” atau orang-orang yang pertama masuk Islam. Dakwah dengan secara
sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama tiga tahun.
Tidak lama kemudian turunkan wahyu
yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW berdakwah secara terang-terangan,
yakni surat Asy-Syu’ara ayat 214 – 216 : yang artinya Dan berilah
peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu
kepada orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman, jika
mereka mendurhakaimu, katakanlah : ”Sesungguhnya aku tidak
bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. Asy-Syu’ara ayat
214 – 216)
Dan surat Al Hijr ayat 94 yang
artinya: Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang
diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang
musyrik. (QS. Al Hijr : 94)
4. Konsep Muhammad Saw Sebagai Penutup Para Nabi Serta Implikasinya Dalam Kehidupan Sosial Serta Keagamaan
Dalam
sangkutannya dengan Nabi, praktek tabanni (yang beliau lakukan untuk
bekas budaknya yang dimerdekakan oleh beliau sendiri, Zayd [ibn
Haritsah]) mengakibatkan sebutan Nabi sebagai "bapak" seseorang
diantara kaum beriman, yaitu Zayd (maka ia disebut Zayd ibn Muhammad),
dengan mengesampingkan kaum beriman yang lain. Maka firman Allah
mengenai hal ini terbaca: "Muhammad itu bukanlah bapak seseorang dari
antara kaum lelakimu, melainkan Rasul Allah dan penutup para Nabi."
Kemudian, mendahului firman itu terbaca firman: "Nabi lebih berhak
atas kaum beriman daripada diri mereka sendiri, dan isteri-isterinya
adalah ibu-ibu mereka..." Sudah tentu yang dimaksud bahwa
isteri-isteri Nabi itu adalah
ibu-ibu kaum beriman ialah dalam
pengertian spiritual. Maka Nabi sendiri, sementara dinyatakan sebagai
bukan bapak salah seorang diantara kaum beriman, adalah bapak
(spiritual) seluruh kaum beriman, yakni, panutan mereka semua. Inilah
yang dapat kita simpulkan dari rangkaian firman-firman yang relevan.
Muhammad Asad menjabarkan bahwa penegasan itu mengandung arti
penolakan kepada pandangan bahwa adanya hubungan fisik
(keturunan) dengan Nabi mempunyai makna spiritual tersendiri;
sebaliknya, karena hubungan kebapakan kepada Nabi dan keibuan kepada
para isteri beliau itu harus dipahami hanya sebagai hubungan
spiritual (dan mustahil sebagai hubungan fisikal), maka kedudukan
seluruh kaum beriman dalam hal ini di hadapan beliau adalah mutlak
sama. Pengertian ini lebih-lebih lagi sangat logis karena Nabi
Muhammad saw adalah Utusan Allah yang terakhir.
Untuk pengertian "penutup" itu
al-Qur'an menggunakan istilah "khatam," yang secara harfiah berarti
"cincin," yaitu cincin pengesah dokumen (seal, stempel), sebagaimana
Nabi Muhammad sendiri juga memilikinya (antara lain beliau
pergunakan mereka yang sahkan surat-surat yang beliau kirim ke para
penguasa sekitar Jazirah Arabia saat itu). Jadi fungsi Nabi Muhammad
saw terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau ialah untuk memberi
pengesahan kepada kebesaran, kitab-kitab suci, dan ajaran mereka. Hal
ini tersimpul dari penjelasan tentang kedudukan al-Qur'an terhadap
kitab-kitab suci yang lalu, yaitu sebagai pembenar (mushaddiq) dan
penentu atau penguji (mahaymin), disamping sebagai pengoreksi
(furqan) atas penyimpangan yang terjadi oleh para pengikut
kitab-kitab itu. Penegasan itu kita dapatkan dalam al-Qur'an dalam
deretan keterangan tentang kaum Yahudi dan Kristen, disertai harapan
agar mereka benar-benar menjalankan ajaran agama mereka masing-masing
dengan baik, dan dirangkaikan dengan penegasan pluralitas
kenyataan hidup manusia, termasuk dan terutama hidup keagamaannya.
Di sini akan dikutip deretan firman itu, karena amat patut (dan di
zaman sekarang cukup mendesak) untuk disimak dan direnungkan akan makna
dan semangatnya.
Mereka (kaum Yahudi) itu suka
mendengarkan kedustaan dan memakan harta terlarang. Kalau mereka
datang kepadamu (Muhammad) maka buatlah keputusan hukum antara
mereka (berkenaan dengan perkara yang menyangkut mereka), atau
berpalinglah dari mereka. Jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka
tidaklah akan merugikan engkau sedikitpun juga Dan jika engkau buat
keputusan hukum, maka buatlah keputusan hukum itu antara mereka
dengan adil.
Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang berbuat keadilan. Tetapi bagaimana mereka akan meminta
hukum kepadamu, padahal mereka punya Taurat yang didalamnya ada hukum
Allah kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari keputusanmu).
Mereka bukanlah kaum yang (benar-benar) beriman.
Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah
menurunkan Kitab Taurat yang didalamnya ada hidayah dan cahaya, yang
dengan Taurat itu para Nabi yang berserah diri (kepada Allah)
membuat keputusan hukum untuk mereka yang beragama Yunani, demikian
pula mereka yang ber-Ketuhanan (rabbaniyyun) dan para pendeta
mereka, karena perintah agar mereka memelihara kitab Allah, dan mereka
menjadi saksi atas hal itu. Maka janganlah kamu takut kepada manusia,
melainkan takutlah kepada-Ku, dan jangan pula kamu menjual ayat-ayat-Ku
dengan harga murah. Barangsiapa tidak menjalankan hukum dengan yang
diturunkan Allah maka mereka adalah kaum yang kafir.
Dan telah kami tetapkan bagi
mereka (kaum Yahudi) dalam Taurat bahwa jiwa (dibalas) dengan jiwa,
mata dengan mata, hidung dengan hidung, kuping dengan kuping, gigi
dengan gigi, dan luka pun ada balasannya. Namun barangsiapa
melepaskan haknya (untuk membalas), maka hal itu menjadi penebus
bagi (dosa)-nya. Dan barangsiapa tidak menjalankan hukum dengan yang
diturunkan Allah maka mereka adalah kaum yang zalim.
Dan
Kami susuli atas jejak mereka dengan Isa putera Maryam sebagai
pendukung bagi kitab yang ada sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami
karuniakan kepadanya Injil, didalamnya ada hidayah dan cahaya, sebagai
mendukung kebenaran kitab yang ada, yaitu Taurat, dan sebagai
petunjuk dan nasihat bagi mereka yang bertaqwa.
Karena itu hendaknyalah para penganut
Injil itu menjalankan hukum dengan apa yang diturunkan Allah
didalamnya. Barangsiapa tidak menjalankan hukum dengan yang
diturunkan Allah maka mereka adalah kaum yang fasik.
Dan Kami turunkan kepada engkau
(Muhammad) dengan benar, sebagai pendukung bagi yang ada
sebelumnya, yaitu kitab-kitab suci (terdahulu) dan sebagai penentu
(kebenaran kitab yang lalu itu). Maka jalankan hukum dengan yang
diturunkan Allah, dan jangan mengikuti keinginan mereka sehingga
menyimpang dari yang datang kepada engkau, yaitu kebenaran. Untuk
masing-masing dari kamu (ummat manusia) telah Kami tetapkan tatanan
hukum (syir'ah, syari'ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika
seandainya Allah menghendaki, maka tentu akan dijadikannya kamu
sekalian ummat yang tunggal. Tetapi Dia hendak menguji kamu
berkenaan dengan hal-hal yang telah dikaruniakan kepada kamu.
Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah
tempat kembalimu semua, maka Dia akan menjelaskan kepadamu
tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan.
Penafsiran terhadap ayat-ayat
Ilahi ini amat baku di kalangan para ahli dan 'ulama. Pertama,
dalam firman itu terdapat penegasan bahwa para penganut agama, dalam
hal ini Yahudi dan Kristen, harus menjalankan ajaran kebenaran yang
diberikan Allah kepada mereka melalui kitab-kitab mereka,
berturut-turut Taurat dan Injil. Kalau mereka tidak melakukan
hal itu, maka mereka adalah kafir dan zalim. Kedua, al-Qur'an
mendukung kebenaran dasar ajaran-ajaran dalam kitab-kitab suci
itu, tapi juga mengujinya dari kemungkinan pengimpangan oleh
para pengikutnya. Jadi al-Qur'an mengajarkan tentang kontinuitas
agama-agama Tuhan -sebagaimana banyak ditegaskan di berbagai tempat
lain dalam al-Qur'an- sekaligus ajaran tentang perkembangan agama-agama
Tuhan itu dari masa ke masa.
Segi kebenaran yang didukung dan
dilindungi oleh al-Qur'an ialah kebenaran asasi yang menjadi inti semua
agama Allah, khususnya Tawhid atau paham Ketuhanan Yang Maha Esa.
Inti agama yang umum itu dinyatakan dalam istilah Arab al-din, yang
seperti dijelaskan oleh Muhammad Asad mengandung makna
kebenaran-kebenaran agama/spiritual yang asasi dan tidak
berubah-ubah, yang menurut al-Qur'an diajarkan kepada setiap Utusan
Allah. Jadi semua Nabi dan Rasul membawa ajaran inti keagamaan (din)
yang sama, kecuali jika diselewengkan atau diubah oleh para
pengikutnya. Namun para Nabi dan Rasul tidak membawa sistem hukum
(syir'ah, syari'ah) ataupun cara hidup (minhaj, way of life) yang sama.
Perbedaan dalam segi ini membawa kepada adanya kenyataan plural
agama-agama, yang sepanjang ajaran al-Qur'an tidak perlu kita
persoalkan, karena itu sudah menjadi kehendak Allah (Dia tidak
menghendaki masyarakat tunggal manusia), dan Allah pula yang akan
menjelaskan adanya perbedaan ini.
Dari urutan dan logika ajaran
al-Qur'an itu dapat dilihat letak pandangan bahwa al-Qur'an adalah
kulminasi semua kitab suci, dan bahwa penerimanya, yaitu Nabi Muhammad
saw adalah penutup para Nabi dan Rasul. Sebab ajaran yang dibawakannya
adalah perkembangan akhir dari semua agama, menuju
kesempurnaan. Maka Nabi Muhammad sebagai penutup segala Nabi juga
berarti bahwa beliau diutus untuk sekalian ummat manusia:
Katakan
olehmu (Muhammad): "Wahai sekalian ummat manusia! Sesungguhnya aku
adalah Utusan Allah kepada kamu sekalian, yang bagi-Nya kekuasaan
seluruh langit dan bumi; tiada Tuhan selain Dia yang menghidupkan dan
mematikan." Maka sekarang berimanlah kamu sekalian kepada Allah dan
kepada Rasul-Nya yang tak pandai baca tulis itu, yang beriman
kepada firman-firmanNya. Ikutilah dia, agar kamu mendapatkan
petunjuk.
Firman ini, dilihat dari
letaknya, merupakan interpolasi atas deretan keterangan tentang Nabi
Musa dan keturunan Israel. Maksudnya ialah menjelaskan bahwa
sementara Nabi-nabi terdahulu dan ajaran-ajaran yang dibawanya tertuju
khusus kepada bangsa, tempat dan zaman tertentu, namun Nabi Muhammad
dan al-Qur'an tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa terikat
oleh bangsa, tempat maupun zaman tertentu. Sebab sesudah Nabi Muhammad
saw tidak akan lagi ada Nabi, dan sesudah al-Qur'an tidak diturunkan
lagi kitab suci. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw juga disebut sebagai
bukti rahmat atau kasih Allah kepada seluruh alam, khususnya
seluruh ummat manusia.
Dan tidaklah Kami mengutus engkau
(hai Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk sekalian alam.
Katakan (olehmu, Muhammad), "Sesungguhnya diwahyukan kepadaku bahwa
Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Apakah kamu bersedia tunduk
(Islam) kepada-Nya?" Kalau mereka berpaling, maka katakana olehmu,
"Ku telah sampaikan hal ini kepada kamu semua tanpa perbedaan. Dan aku
tidak tahu apakah dekat (segera) atau jauh (terjadinya) apa yang
dijanjikan kepada kamu (oleh Tuhan) itu.
Jadi paham Tawhid atau Ketuhanan Yang
Maha Esa adalah inti ajaran al-Qur'an, sebagaimana juga inti
ajaran para Nabi yang lain. Kita diperintahkan untuk tunduk (Islam)
kepada Tuhan Yang Maha Esa itu. Dan ajaran inti ini telah
disampaikan Nabi kepada ummat manusia tanpa perbedaan.
Dengan kata-kata lain, ajaran
adalah universal. Muhammad Asad menjelaskan segi-segi yang
mendukung universalitas al-Qur'an, yaitu, pertama, seruan al-Qur'an
tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa mempedulikan keturunan, ras
dan
lingkungan budayanya: kedua, fakta
bahwa al-Qur'an menyeru semata-mata kepada amal manusia dan
karenanya, tidak merumuskan dengan yang bisa diterima atas dasar
kepercayaan buta semata; dan akhirnya, fakta bahwa -berbeda dari semua
kitab suci yang diketahui dalam sejarah- al-Qur'an tetap
seluruhnya tak berubah dalam kata-katanya sejak ia diturunkan
dalam belasan abad yang lalu dan akan selamanya demikian keadaannya,
karena ia diantara sedemikian luas, sesuai dengan janji Illahi. "Dan
Kami-(Tuhan)-lah yang pasti menjaganya" (QS. al-Hijr/15:9). Berdasarkan
tiga daftar isi muka al-Qur'an merupakan tahap akhir wahyu Tuhan,
dan Nabi. Muhammad adalah penutup segala Nabi
sumber: http://ujungkulon22.blogspot.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar